Berikut eksistensialisme menurut 2 tokoh terkenal Kierkegaard dan Sartre
EKSISTENSIALISME KIERKEGAARD
Pengertian Eksistensialisme
Secara etimologis, eksistensialisme berasal dari kataex yang berarti keluar dan sistentia (sistere) yang berarti berdiri. Jadi, manusia bereksistensi adalah manusia yang baru menemukan diri sebagai aku dengan keluar dari dirinya.Tokoh eksistensialisme: Kierkegaard, Edmund Husserl, Martin Heidegger, Gabriel Marcel, Jean Paul Sartre, dll.Satu hal yang sama: filsafat harus bertitik tolak pada manusia konkrit, manusia sebagai eksistensi, maka bagi manusia eksistensi mendahului esensi.
Ciri-Ciri Eksistensialisme
Motif pokok: eksistensi, cara manusia beradaMenciptakan diri secara aktif, berbuat, menjadi, merencanakan.Manusia dipandang terbuka, belum selesai. Manusia terikat pada dunia sekitarnya, khususnya pada sesamanya.Memberi penekanan pada pengalaman konkrit.
Siapa Kierkegaard?
Soren Aabye Kierkegaard lahir di Kopenhagen, Denmark pada tanggal 15 Mei 1813.Belajar teologi di Univ. Kopenhagen tetapi tidak selesai.Sempat menjauh dari temannya dan agama.Pada tahun 1849, Beliau kembali ke agama Kristen.Meninggal 1855 sebagai orang religius dan dipandang sebagai tokoh di gerejanya.Dia dikenal sebagai bapa eksistensialisme.
Pokok-Pokok Ajaran Kierkegaard
Kritik terhadap Hegel: Kierkergaard memandang Hegel sebagai pemikir besar tapi satu hal yang dilupakan Hegel, yaitu eksistensi manusia individual dan konkret. Manusia tidak dapat dibicarakan 'pada umumnya' atau 'menurut hakekatnya', karena manusia pada umumnya tidak ada.Yang ada adalah manusia konkret yang semua penting, berbeda dan berdiri di hadapan Tuhan. Manusia itu eksistensi.Eksistensi menurut Kierkegaard: merealisir diri, mengikat diri dengan bebas, dan mempraktekkan keyakinannya dan mengisi kebebasannya.
Ada 3 sikap eksistensi, yaitu sebagai berikut
Estetis: merengguh sebanyak mungkin kenikmatan, yang dikuasi oleh perasaan.
Etis: sikap menerima kaidah-kaidah moral, suara hati dan memberi arah pada hidupnya.
Religius: berhadapan dengan Tuhan, manusia sendirian.
Manusia Menjadi Seperti yang Dipercayainya
Pernyataan Parmenides hingga Hegel mengenai 'berpikir sama dengan benda' ditolak oleh Kierkegaard, karena menurutnya 'percaya itu sama dengan menjadi'.Manusia memilih eksistensinya entah sebagai penonton yang pasif, atau sebagai pemain/ individu yang menentukan sendiri eksistensinya dengan mengisi kebebasannya.
Waktu dan Keabadian
Setiap orang adalah campuran dari ketakterhinggaan dan keterhinggaan.Manusia hidup dalam dunia dimensi sekaligus, yaitu keabadian dan waktu. Kedua dimensi ini bertemu dalam 'saat', yakni suatu titik dimana waktu dan keabadian bersatu. Kita menjadi eksistensi dalam 'saat' , yaitu saat pilihan. Pilihan itu suatu 'loncatan' dari waktu ke keabadian.
Subyektivitas dan Eksistensi sebagai Tugas
Eksistensi manusia adalah tugas yang harus dijalani dengan kesejatian sehingga orang tidak tampil dengan semu.Eksistensi sebagai tugas disertai oleh tanggungjawab.Eksistensi sejati memungkinkan individu memilih dan mengambil keputusan sendiri. Oleh karena itu, Kierkegaard menganggap subyektivitas dan eksistensi sejati sebagai suatu tugas.
Publik dan Individu
Publik bagi Kierkegaard hanya abstraksi belaka, bukan realitas. Publik menjadi berbahaya bila itu dianggap nyata.Kierkegaard bukan menolak adanya kemungkinan bagi manusia untuk bergabung dengan yang lain. "Hanya setelah individu itu mencapai sikap etis barulah penggabungan bersama dapat disarankan. Kalau tidak, penggabungan individu yang lemah sama memuakkan seperti perkawinan antara anak-anak."
EKSISTENSIALISME SARTRE
Siapa Jean Paul Sartre?
Lahir di Paris 19051929 menjadi guru1931-1936 menjadi dosen filsafat di Le Havre1941 menjadi tawanan perang1942-1944 menjadi dosen Loycee PasteurBanyak menulis karya filsafat dan sastraDipengaruhi oleh Husserl dan Heidegger
Pemikiran Filsafat Sartre
Bagi Sartre, manusia mengada dengan kesadaran sebagai dirinya sendiri. Keberadaan manusia berbeda dengan keberadaan benda lain yang tidak punya kesadaran.Manusia eksistensi: keterbukaan, beda dengan benda lain yang keberadaannya sekaligus sebagai esensinya.Asas pertama untuk memahami manusia adalah harus mendekatinya sebagai subyektivitas.Tanggungjawab yang menjadi beban kita jauh lebih besar dari sekedar tanggungjawab terhadap diri kita sendiri.Dibedakan 'berada dalam diri' dan 'berada untuk diri'.Berada dalam diri= beradaan sich, berada dalam dirinya, berada itu sendiri.Berada untuk diri= berada dengan sadar akan dirinya, yaitu cara berada manusia.Tuhan tidak bisa dimintai tanggungjawab. Tuhan tidak terlibat dalam putusan yang diambil oleh manusia. Manusia adalah kebebasan dan hanya sebagai makhluk yang bebas dia bertanggungjawab.Tanpa kebebasan eksistensi manusia menjadi absurd. Bila kebebasannya ditiadakan, maka manusia hanya sekedar esensi belaka.
Apakah yang Mengurangi Kebebasan Manusia?
Tempat kita berada: situasi yang memberi struktur kepada kita, tetapi juga kita beri struktur.Masa lalu: tidak mungkin meniadakannya karena masa lampau menjadikan kita sebagaimana kita sekarang ini.Lingkngan sekitar (Umwelt)Kenyataan: adanya sesama manusia dengan eksistensinya sendiriMaut: tidak bisa ditunggu saat tibanya, walaupun pasti akan tiba.
Komunikasi dan Cinta
Komunikasi = suatu hal yang apriori tak mungkin tanpa adanya sengketa, karena setiap kali orang menemui orang lain pada akhirnya akan terjadi saling objektifikasi, yang seorang seolah-olah membekukan orang lain.Cinta = bentuk hubungan keinginan saling memiliki (objek cnta). Akhirnya cinta bersifat sengketa karena objektifikasi yang tak terhindarkan.
Sumber di ambil dari slide bahan kuliah tentang Eksistensialisme.
Selasa, 07 Oktober 2014
(Pertemuan Kesembilan) Fieldtrip To Kampung Betawi
Halo semua.. Di pertemuan kali ini kami belajar sedikit berbeda dari biasanya. Kami diajak oleh dosen berkunjung ke kampung betawi yang berada di daerah Setu Babakan.
Semua mahasiswa mengikuti kegiatan dengan antusias, meski ada beberapa teman kami yang tidak bisa ikut karena sakit. Hari ini kami harus tiba di kampus sekitar pukul 06.45 dan berkumpul di kelas. Lalu sebelum kami menuju ke Kampung Betawi kami dibekali dengan beberapa materi yang berkaitan dengan hari ini. Jadi kami tidak kebingungan ketika tiba disana karena sudah tau apa saja yang harus dilakukan. Ada 2 materi yang diberikan, yang pertama seni, budaya dan yang kedua adalah etos kerja.
Kami menggunakan 3 bus yang kurang lebih berisi 170 mahasiswa, 4 dosen pendamping dan juga 2 asisten dosen yang ikut turut mendampingi kami. Kami tiba di sana sekitar jam sepuluh lewat, dan kami segera berkumpul di suatu danau. Lalu kami sempat diberi arahan sedikit dan kami pun segera mengerjakan tugas kami. Tapi sebelum kami mengerjakan tugas, kami makan siang terlebih dahulu. Menu makanannya cukup lezat untuk disantap.
Setelah makan siang, kami segera pergi untuk menonton pertunjukan seni di sana. Ada 2 pertunjukan d sana, ada pertunjukan tari dan juga ada pertunjukan main alat music khas betawi. Kami pun sempat mewawancarai seorang yang dapat dikatakan sangat mengetahui tentang seni, budaya yang ada di kampung Betawi. Kami pun memperoleh informasi yang sangat banyak.
Lalu setelah itu kami pun segera mengerjakan tugas kedua yang berkaitan dengan etos kerja. Kami mewawancarai beberapa pedangang di sana seperti penjual arum manis (Rambut Nenek), penjual Bir Pletok, penjual Es Potong, penjual Kerak Telor, penjual Dodol Betawi, dan beberapa penjual lagi.
Setalah kami mewawancarai beberapa pedagang, kami pun bersantai dengan menikmati berbagai jajanan yang ada d sana. Dalam kegiatan Fieldtrip ini kelompok kami yaitu kelompok Paris ikut semua dan kami pun semakin kompak, lebih mengenal satu sama lain, dan semakin solid.
Sekian untuk pertemuan kesembilan thankyou :)
Semua mahasiswa mengikuti kegiatan dengan antusias, meski ada beberapa teman kami yang tidak bisa ikut karena sakit. Hari ini kami harus tiba di kampus sekitar pukul 06.45 dan berkumpul di kelas. Lalu sebelum kami menuju ke Kampung Betawi kami dibekali dengan beberapa materi yang berkaitan dengan hari ini. Jadi kami tidak kebingungan ketika tiba disana karena sudah tau apa saja yang harus dilakukan. Ada 2 materi yang diberikan, yang pertama seni, budaya dan yang kedua adalah etos kerja.
Kami menggunakan 3 bus yang kurang lebih berisi 170 mahasiswa, 4 dosen pendamping dan juga 2 asisten dosen yang ikut turut mendampingi kami. Kami tiba di sana sekitar jam sepuluh lewat, dan kami segera berkumpul di suatu danau. Lalu kami sempat diberi arahan sedikit dan kami pun segera mengerjakan tugas kami. Tapi sebelum kami mengerjakan tugas, kami makan siang terlebih dahulu. Menu makanannya cukup lezat untuk disantap.
Setelah makan siang, kami segera pergi untuk menonton pertunjukan seni di sana. Ada 2 pertunjukan d sana, ada pertunjukan tari dan juga ada pertunjukan main alat music khas betawi. Kami pun sempat mewawancarai seorang yang dapat dikatakan sangat mengetahui tentang seni, budaya yang ada di kampung Betawi. Kami pun memperoleh informasi yang sangat banyak.
Lalu setelah itu kami pun segera mengerjakan tugas kedua yang berkaitan dengan etos kerja. Kami mewawancarai beberapa pedangang di sana seperti penjual arum manis (Rambut Nenek), penjual Bir Pletok, penjual Es Potong, penjual Kerak Telor, penjual Dodol Betawi, dan beberapa penjual lagi.
Setalah kami mewawancarai beberapa pedagang, kami pun bersantai dengan menikmati berbagai jajanan yang ada d sana. Dalam kegiatan Fieldtrip ini kelompok kami yaitu kelompok Paris ikut semua dan kami pun semakin kompak, lebih mengenal satu sama lain, dan semakin solid.
Sekian untuk pertemuan kesembilan thankyou :)
(Pertemuan Kedelapan) MANUSIA DAN AFEKTIVITASNYA & KEBEBASAN
Kekayaan dan kompleksitas afektivitas manusia
Yang membedakan manusia dengan mahluk hidup lainnya adalah afektivitasnya.
-Afektivitas yaitu membuat manusia ‘berada’ didunia, berpartisipasi dg org lain.
-Afektifitas mendorong orang utk mencintai, mengabdi dan menjadi kreatif.
Cara hadir kita di dunia diperdalam melalui afektivitas.
Bagaimana disposisi afektif dasariah si subyek terhadap obyeknya?
Seluruh kehidupan afektif berputar pd dua kutub yg bertentangan satu sama lain,mengarah pd obyek krn menyukainya, atau berpaling darinya (menganggapnya buruk).
- Cinta dapat diartikan buah afektivitas positif,
- Benci dapat diartikan buah afektivitas negatif.
Sebenarnya cintalah yg paling dasariah.
Sikap yang di ambil Avektivitas (Berhadapan dengan objek):
Jika terhadap obyek yg dianggap berguna = subyek mencintainya (cinta utilitaris/bermanfaat).
Sifat subjek dapat ditentukan secara afektif oleh objeknya (di bedakan dengan perasaan & emosi):
Keadaan afektif yg berbeda-beda yaitu ‘hasrat-hasrat jiwa’ (Thomas Aquinas).
Suasana hati lah yang dapat mempengaruhi.
Yang erupakan perbuatan Afektif:
- Hidup afektif /afektivitas: seluruh perbuatan afektif yg dilakukan subyek sehingga subyek ditarik oleh obyek atau sebaliknya.
- Perbuatan afektif sedikit mirip dg ‘perbuatan mengenal’ (dianggap perbuatan vital/imanen). Tapi ada perbedaan: perbuatan afektif itu lebih pasif, sedangkan pada ‘perbuatan mengenal’ subyek membuka diri pd obyek.
Kondisi afektivitas manusia:
- Agar ada afektivitas (perlu suatu ikatan kesamaan antara obyek dan subyek)
KEBEBASAN
Perdebatan tentang kebebasan sudah sangat lama.
- Keberadaan atau eksistensi jiwa dalam Tubuh, membantu memampukan manusia untuk menghadirkan diri secara total di dunia ,beserta perbuatannya (Karna ada jiwa di dalam tubuh yang membantu dan menggerakan ,merasakan,dll).
- Dalam fungsi menentukan perbuatan, jiwa berhubungan dengan kehendak bebas.(Adanya unsur bebas di dalamnya sehingga prilaku adalah titik temu antara pengaruh dan tekanan).
Teori Erich Fromm: Sejarah manusia merupakan sejarah perjuangan kebebasan (Artinya ada beberapa hal yang menyebabkan manusia tidak bebas).
Pandangan Determinisme:
Determinisme merupakan Aliran yang menolak kebebasan sebagai kenyataan hidup bagi manusia (stiap kejadian di sebabkan karna peristiwa lain, bukan karna manusiannya).
Alasan Determinisme:
- karna adanya determinisme biologis(kebebasan di batasi oleh biologis kita)
- Karna adalnya determinisme psikologis
- Karna adalnya determinisme sosial
- Karna adalnya determinisme teologis
Jenis-jenis kebebasan:
- Kebebasan horizontal:
Berkaitan dengan kesenangan, dan bersikap spontan.
- Kebebasan vertikal:
Moral, pertimbangan tujuan, tingkat nilai.
- Kebabasan Eksistensial (bersifat positif): punya harkat dan martabat, punya kebebasan memilih.
Sejarah perkembangan masalah Kebebasan
Era Abad Pertengahan:
-Sejak zaman yunani tidak memberikan jawaban. (karna di yunani kuno banyak mitor-mitos. semua hal berada di bawah nasib menurut mreka).
-Menurut Yunani manusia adalah bagian dari alam. (Filsuf prtmana Yunani adalah Tales " apakah hakikat terdalam/Atau dasar dari alam ini?").
-Manusia terpengaruh dengan hal yg bersikap cycle.
Era modern:
-Bersfifat perpektif teosentrik ( digantikan dengan prepektif antroposentrik.
Era sekarang:
-Di permasalahkan dari sudut pandang sosial
Kebebasan menurut pemikiran Timur Cenderung melihat sebagai pembebasan dari kendala keinginan egoistik & dari kecemasan untuk mencapai pengendalian diri dan kesatuan.
Sumber diambil dari slide bahan kuliah tentang Manusia Dan Afektivitasnya & Kebebasan.
Yang membedakan manusia dengan mahluk hidup lainnya adalah afektivitasnya.
-Afektivitas yaitu membuat manusia ‘berada’ didunia, berpartisipasi dg org lain.
-Afektifitas mendorong orang utk mencintai, mengabdi dan menjadi kreatif.
Cara hadir kita di dunia diperdalam melalui afektivitas.
Bagaimana disposisi afektif dasariah si subyek terhadap obyeknya?
Seluruh kehidupan afektif berputar pd dua kutub yg bertentangan satu sama lain,mengarah pd obyek krn menyukainya, atau berpaling darinya (menganggapnya buruk).
- Cinta dapat diartikan buah afektivitas positif,
- Benci dapat diartikan buah afektivitas negatif.
Sebenarnya cintalah yg paling dasariah.
Sikap yang di ambil Avektivitas (Berhadapan dengan objek):
Jika terhadap obyek yg dianggap berguna = subyek mencintainya (cinta utilitaris/bermanfaat).
Sifat subjek dapat ditentukan secara afektif oleh objeknya (di bedakan dengan perasaan & emosi):
Keadaan afektif yg berbeda-beda yaitu ‘hasrat-hasrat jiwa’ (Thomas Aquinas).
Suasana hati lah yang dapat mempengaruhi.
Yang erupakan perbuatan Afektif:
- Hidup afektif /afektivitas: seluruh perbuatan afektif yg dilakukan subyek sehingga subyek ditarik oleh obyek atau sebaliknya.
- Perbuatan afektif sedikit mirip dg ‘perbuatan mengenal’ (dianggap perbuatan vital/imanen). Tapi ada perbedaan: perbuatan afektif itu lebih pasif, sedangkan pada ‘perbuatan mengenal’ subyek membuka diri pd obyek.
Kondisi afektivitas manusia:
- Agar ada afektivitas (perlu suatu ikatan kesamaan antara obyek dan subyek)
KEBEBASAN
Perdebatan tentang kebebasan sudah sangat lama.
- Keberadaan atau eksistensi jiwa dalam Tubuh, membantu memampukan manusia untuk menghadirkan diri secara total di dunia ,beserta perbuatannya (Karna ada jiwa di dalam tubuh yang membantu dan menggerakan ,merasakan,dll).
- Dalam fungsi menentukan perbuatan, jiwa berhubungan dengan kehendak bebas.(Adanya unsur bebas di dalamnya sehingga prilaku adalah titik temu antara pengaruh dan tekanan).
Teori Erich Fromm: Sejarah manusia merupakan sejarah perjuangan kebebasan (Artinya ada beberapa hal yang menyebabkan manusia tidak bebas).
Pandangan Determinisme:
Determinisme merupakan Aliran yang menolak kebebasan sebagai kenyataan hidup bagi manusia (stiap kejadian di sebabkan karna peristiwa lain, bukan karna manusiannya).
Alasan Determinisme:
- karna adanya determinisme biologis(kebebasan di batasi oleh biologis kita)
- Karna adalnya determinisme psikologis
- Karna adalnya determinisme sosial
- Karna adalnya determinisme teologis
Jenis-jenis kebebasan:
- Kebebasan horizontal:
Berkaitan dengan kesenangan, dan bersikap spontan.
- Kebebasan vertikal:
Moral, pertimbangan tujuan, tingkat nilai.
- Kebabasan Eksistensial (bersifat positif): punya harkat dan martabat, punya kebebasan memilih.
Sejarah perkembangan masalah Kebebasan
Era Abad Pertengahan:
-Sejak zaman yunani tidak memberikan jawaban. (karna di yunani kuno banyak mitor-mitos. semua hal berada di bawah nasib menurut mreka).
-Menurut Yunani manusia adalah bagian dari alam. (Filsuf prtmana Yunani adalah Tales " apakah hakikat terdalam/Atau dasar dari alam ini?").
-Manusia terpengaruh dengan hal yg bersikap cycle.
Era modern:
-Bersfifat perpektif teosentrik ( digantikan dengan prepektif antroposentrik.
Era sekarang:
-Di permasalahkan dari sudut pandang sosial
Kebebasan menurut pemikiran Timur Cenderung melihat sebagai pembebasan dari kendala keinginan egoistik & dari kecemasan untuk mencapai pengendalian diri dan kesatuan.
Sumber diambil dari slide bahan kuliah tentang Manusia Dan Afektivitasnya & Kebebasan.
(Pertemuan Ketujuh) BADAN DAN JIWA
Badan dan jiwa adalah satu kesatuan yang membentuk pribadi manusia. Keduanya membentuk keutuhan pribadi manusia.
Monisme
Monisme adalah aliran yg menolak pandangan bahwa badan dan jiwa merupakan dua unsur yang terpisah. Badan dan jiwa adalah satu substansi. Keduanya satu kesatuan yg membentuk pribadi manusia.
Tiga bentuk aliran monisme adalah:
- Materialisme, yaitu menempatkan materi sbg dasar bagi sgala hal yg ada (fisikalisme). Manusia juga bersumber pada materi. Manusia tidak pernah melampaui potensi jasmaninya. Jiwa tdk punya eksistensi sendiri. Jiwa bersumber dari materi. Eksistensi jiwa bersifat kronologis (hasil hub sebab akibat). Reduksi humanitas pada dimensi fisik punya implikasi negatif pada penilaian atas aktivitas mental.
- Teori identitas, yaitu menekankan hal berbeda dari materialisme, tapi mengakui aktivitas mental manusia. Ini menjadi ciri khas manusia. Letak perbedaan jiwa dan badan hanya pada arti bukan referensi. Badan dan jiwa merupakan dua elemen yang sama.
- Idealisme, ada hal yang tidak dapat diterangkan semata berdasarkan materi, seperti pengalaman, nilai dan makna. Itu hanya punya arti bila dihubungkan dengan sesuatu yang imaterial yaitu jiwa. Rene Descartes dengan cogito ergo sumnya menjadi peletak dasar dari idealisme.
Dualisme
Dualisme berpendapat bahwa badan dan jiwa adalah dua elemen yang berbeda dan terpisah. Perbedaannya ada dalam pengertian dan objek.
Empat cabang dualisme adalah:
- Interaksionisme, fokus pada hubungan timbal balik antara badan dan jiwa. Peristiwa mental bs menyebabkan peristiwa badani dan sebaliknya.
- Okkasionalisme, memasukkan dimensi ilahi dalam membicarakan hubungan badan dan jiwa. Hubungan peristiwa mental dan fisik bisa terjadi dengan campur tangan ilahi.
- Paralelisme, sistem kejadian ragawi terdapat di alam, sedangkan sistem kejadian kejiwaan ada pd jiwa manusia. Dalam diri manusia ada dua peristiwa yang berjalan seiring yaitu peristiwa mental dan fisik, namun satu tidak jadi sumber bagi lainnya.
- Epifenomenalisme, melihat hubungan jiwa dan badan dari fungsi syaraf. Satu-satunya unsur untuk menyelidiki proses kejiwaan adalah syaraf.
Badan Manusia
Badan adalah elemen mendasar dlm membentuk pribadi manusia.
Pandangan tradisional, badan=kumpulan berbagai entitas material yang membentuk makluk.
Mekanisme gerakan badan bersifat mekanistik. Pandangan ini tidak memberikan pandangan utuh tentang manusia. Badan harus dimengerti melebihi dimensi fisik. Badan menyangkut keakuan. Membicarakan tubuh adalah membicarakan diri (Gabriel Marcel).
Hakekat badan bukan pertama-tama terletak pd dimensi materialnya, tapi dlm seluruh aktivitas entitas yg terjadi dlm badan: tertawa, menangis, berjalan, lari, duduk, dll.
Jiwa Manusia
Badan manusia tdk memiliki apa-apa tanpa jiwa. Tidak ada keakuan bila dilepaskan dari jiwa. Dlm pandangan tradisional jiwa – makluk halus, tdk bs ditangkap indera. Konsep ini menempatkan jiwa di luar hakekat manusia. Ini ditolak. Jiwa harus dipahami sbg kompleksitas kegiatan mental manusia. Jiwa menyadarkan manusia siapa dirinya.
James P. Pratt menunjuk ada empat kemampuan dasar jiwa manusia. Pertama, menghasilkan kualitas penginderaan.Kedua, Mampu menghasilkan makna yg berasal dr pengeinderaan khusus. Ketiga, mampu memberi tanggapan thdp hasil penginderaan. Empat, memberi tanggapan pd proses yg terjadi dlm pikiran demi kebaikan.
Agustinus: manusia hanya bs melakukan penilaian thdp tindakannya krn dorongan dr jiwa. Jiwa mendorong manusia utk melakukan hukum-hukum moral yg diketahui. Praktek moral sehari-hari adalah tanda berfungsinya jiwa dlm diri seseorg. Kegiatan jiwa bukan mekanistik adalah bukti dari kemampuan jiwa.
Sumber diambil dari slide bahan kuliah tentang Badan Dan Jiwa.
Monisme
Monisme adalah aliran yg menolak pandangan bahwa badan dan jiwa merupakan dua unsur yang terpisah. Badan dan jiwa adalah satu substansi. Keduanya satu kesatuan yg membentuk pribadi manusia.
Tiga bentuk aliran monisme adalah:
- Materialisme, yaitu menempatkan materi sbg dasar bagi sgala hal yg ada (fisikalisme). Manusia juga bersumber pada materi. Manusia tidak pernah melampaui potensi jasmaninya. Jiwa tdk punya eksistensi sendiri. Jiwa bersumber dari materi. Eksistensi jiwa bersifat kronologis (hasil hub sebab akibat). Reduksi humanitas pada dimensi fisik punya implikasi negatif pada penilaian atas aktivitas mental.
- Teori identitas, yaitu menekankan hal berbeda dari materialisme, tapi mengakui aktivitas mental manusia. Ini menjadi ciri khas manusia. Letak perbedaan jiwa dan badan hanya pada arti bukan referensi. Badan dan jiwa merupakan dua elemen yang sama.
- Idealisme, ada hal yang tidak dapat diterangkan semata berdasarkan materi, seperti pengalaman, nilai dan makna. Itu hanya punya arti bila dihubungkan dengan sesuatu yang imaterial yaitu jiwa. Rene Descartes dengan cogito ergo sumnya menjadi peletak dasar dari idealisme.
Dualisme
Dualisme berpendapat bahwa badan dan jiwa adalah dua elemen yang berbeda dan terpisah. Perbedaannya ada dalam pengertian dan objek.
Empat cabang dualisme adalah:
- Interaksionisme, fokus pada hubungan timbal balik antara badan dan jiwa. Peristiwa mental bs menyebabkan peristiwa badani dan sebaliknya.
- Okkasionalisme, memasukkan dimensi ilahi dalam membicarakan hubungan badan dan jiwa. Hubungan peristiwa mental dan fisik bisa terjadi dengan campur tangan ilahi.
- Paralelisme, sistem kejadian ragawi terdapat di alam, sedangkan sistem kejadian kejiwaan ada pd jiwa manusia. Dalam diri manusia ada dua peristiwa yang berjalan seiring yaitu peristiwa mental dan fisik, namun satu tidak jadi sumber bagi lainnya.
- Epifenomenalisme, melihat hubungan jiwa dan badan dari fungsi syaraf. Satu-satunya unsur untuk menyelidiki proses kejiwaan adalah syaraf.
Badan Manusia
Badan adalah elemen mendasar dlm membentuk pribadi manusia.
Pandangan tradisional, badan=kumpulan berbagai entitas material yang membentuk makluk.
Mekanisme gerakan badan bersifat mekanistik. Pandangan ini tidak memberikan pandangan utuh tentang manusia. Badan harus dimengerti melebihi dimensi fisik. Badan menyangkut keakuan. Membicarakan tubuh adalah membicarakan diri (Gabriel Marcel).
Hakekat badan bukan pertama-tama terletak pd dimensi materialnya, tapi dlm seluruh aktivitas entitas yg terjadi dlm badan: tertawa, menangis, berjalan, lari, duduk, dll.
Jiwa Manusia
Badan manusia tdk memiliki apa-apa tanpa jiwa. Tidak ada keakuan bila dilepaskan dari jiwa. Dlm pandangan tradisional jiwa – makluk halus, tdk bs ditangkap indera. Konsep ini menempatkan jiwa di luar hakekat manusia. Ini ditolak. Jiwa harus dipahami sbg kompleksitas kegiatan mental manusia. Jiwa menyadarkan manusia siapa dirinya.
James P. Pratt menunjuk ada empat kemampuan dasar jiwa manusia. Pertama, menghasilkan kualitas penginderaan.Kedua, Mampu menghasilkan makna yg berasal dr pengeinderaan khusus. Ketiga, mampu memberi tanggapan thdp hasil penginderaan. Empat, memberi tanggapan pd proses yg terjadi dlm pikiran demi kebaikan.
Agustinus: manusia hanya bs melakukan penilaian thdp tindakannya krn dorongan dr jiwa. Jiwa mendorong manusia utk melakukan hukum-hukum moral yg diketahui. Praktek moral sehari-hari adalah tanda berfungsinya jiwa dlm diri seseorg. Kegiatan jiwa bukan mekanistik adalah bukti dari kemampuan jiwa.
Sumber diambil dari slide bahan kuliah tentang Badan Dan Jiwa.
(Pertemuan Keenam) FILSAFAT MANUSIA
Sebagai perenungan Filsafat dapat dicirikan oleh:
- Mengkaji segala hal secara kritis
- Menggunakan metode dialektis
- Berusaha mencapai realitas terdalam (arkhe)
- Bertujuan menangkap tujuan ideal realitas
- Mengetahui bagaimana harus hidup sebagai manusia
Bagian filsafat ini mengupas apa arti manusia atau menyoroti hakikat atau esensi manusia, memikirkan tentang asal-usul kehidupan manusia (origin of human life), hakikat hidup manusia (the nature of human life), dan realitas eksistensi manusia. Maka, filsafat manusia menanyakan pertanyaan krusial tentang dirinya sendiri dan secara bertahap memberi jawaban bagi diri sendiri.
Mengapa kita perlu mempelajari filsafat manusia?
Manusia adalah makhluk yang mampu dan wajib (sampai tingkat tertentu) menyelidiki arti yang dalam dari “yang ada”, manusia juga bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Boleh saja jika kita tidak harus tahu segala hal, tapi sekurang-kurangnya kita harus mengenal dan mengerti diri sendiri secara mendalam agar dapat mengatur diri dalam hidup ini.
Saat-saat ini banyak sekali anak-anak muda yang tidak tertarik akan filsafat terutama filsafat manusia karena menurut mereka filsafat tidak berguna dan juga zaman sekarang banyak ilmu yang mengkaji manusia yang memperkaya dan memperdalam pengetahuan tentang manusia.
Beberapa filsuf yang membahas mengenai filsafat manusia adalah:
- Aristoteles
- Plato
- Merleau-Ponty
- Paul Ricoeur
- Martin Heidegger
- Soren Kierkegaard
- Emmanuel Levinas
- Gabriel Marcel
- Jacques Lacan
- Jacques Derrida
Jadi, relevankah filsafat manusia?
- Ya, manusia itu dinamis, misteri dan paradoksal
Alasannya adalah:
- Dengan bertanya manusia mewujudkan hakikat kemanusiaannya
- Dengan mendalami manusia, manusia mengenal dirinya lebih baik
- Sebagai konsekuensi no.2 di atas, filsafat manusia mengantar manusia semakin bertanggung jawab terhadap dirinya dan sesama. Misalnya kata Karl Marx, Erich Fromm dan E. Levinas
Sebagai bagian dari filsafat, cara kerja filsafat manusia juga sama dengan filsafat pada umumnya yaitu: refleksi, analisa transendental dan sintesa juga ekstensif, intensif dan kritis. Objek filsafat manusia terbagi 2, yaitu objek material yang berkaitan dengan manusia dan objek formal yang berkaitan dengan esensi manusia, strukturnya yang fundamental.
Struktur fundamental bukan fisik melainkan struktur metafisik yakni intisari, struktur dasar, bentuk terpenting manusia, dinamisme primordial manusia yang diketahui melalui daya pikir, bukan penginderaan.
Kata Max Scheler dan Heidegger
Tak ada zaman, seperti zaman sekarang di mana manusia menjadi pertanyaan bagi dirinya sendiri atau menjadi problematik bagi dirinya. Tak ada pula masa di mana di tengah kemajuan yang pesat mengenai manusia, manusialah paling kurang tahu tentang dirinya dan tentang identitasnya
Kata A. Heschel tentang filsafat manusia dalam “Who is man?” Stanford University Press, 1965
“filsafat mempunyai perhatian terhadap manusia dalam totalitasnya, bukan dalam aspek ini atau itu. setiap ilmu terspesialisasi (antropologi, linguistik, fisiologi, kedokteran, psikologi, sosiologi, ekonomi, ilmu politik), betapapun kerasnya usaha mereka, mereka tetap membatasi totalitas dari individu dengan memandangnya dari segi salah satu fungsi, atau dari dorongan tertentu. Pengetahuan kita tentang manusia terpecah-pecah: kerapkali kita menggantikan keseluruhan dengan salah satu bagian. Kita berusaha untuk menghindari kesalahan-kesalahan”.
Sumber diambil dari slide bahan kuliah tanggal 23 September 2014 tentang Filsafat Manusia.
- Mengkaji segala hal secara kritis
- Menggunakan metode dialektis
- Berusaha mencapai realitas terdalam (arkhe)
- Bertujuan menangkap tujuan ideal realitas
- Mengetahui bagaimana harus hidup sebagai manusia
Bagian filsafat ini mengupas apa arti manusia atau menyoroti hakikat atau esensi manusia, memikirkan tentang asal-usul kehidupan manusia (origin of human life), hakikat hidup manusia (the nature of human life), dan realitas eksistensi manusia. Maka, filsafat manusia menanyakan pertanyaan krusial tentang dirinya sendiri dan secara bertahap memberi jawaban bagi diri sendiri.
Mengapa kita perlu mempelajari filsafat manusia?
Manusia adalah makhluk yang mampu dan wajib (sampai tingkat tertentu) menyelidiki arti yang dalam dari “yang ada”, manusia juga bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Boleh saja jika kita tidak harus tahu segala hal, tapi sekurang-kurangnya kita harus mengenal dan mengerti diri sendiri secara mendalam agar dapat mengatur diri dalam hidup ini.
Saat-saat ini banyak sekali anak-anak muda yang tidak tertarik akan filsafat terutama filsafat manusia karena menurut mereka filsafat tidak berguna dan juga zaman sekarang banyak ilmu yang mengkaji manusia yang memperkaya dan memperdalam pengetahuan tentang manusia.
Beberapa filsuf yang membahas mengenai filsafat manusia adalah:
- Aristoteles
- Plato
- Merleau-Ponty
- Paul Ricoeur
- Martin Heidegger
- Soren Kierkegaard
- Emmanuel Levinas
- Gabriel Marcel
- Jacques Lacan
- Jacques Derrida
Jadi, relevankah filsafat manusia?
- Ya, manusia itu dinamis, misteri dan paradoksal
Alasannya adalah:
- Dengan bertanya manusia mewujudkan hakikat kemanusiaannya
- Dengan mendalami manusia, manusia mengenal dirinya lebih baik
- Sebagai konsekuensi no.2 di atas, filsafat manusia mengantar manusia semakin bertanggung jawab terhadap dirinya dan sesama. Misalnya kata Karl Marx, Erich Fromm dan E. Levinas
Sebagai bagian dari filsafat, cara kerja filsafat manusia juga sama dengan filsafat pada umumnya yaitu: refleksi, analisa transendental dan sintesa juga ekstensif, intensif dan kritis. Objek filsafat manusia terbagi 2, yaitu objek material yang berkaitan dengan manusia dan objek formal yang berkaitan dengan esensi manusia, strukturnya yang fundamental.
Struktur fundamental bukan fisik melainkan struktur metafisik yakni intisari, struktur dasar, bentuk terpenting manusia, dinamisme primordial manusia yang diketahui melalui daya pikir, bukan penginderaan.
Kata Max Scheler dan Heidegger
Tak ada zaman, seperti zaman sekarang di mana manusia menjadi pertanyaan bagi dirinya sendiri atau menjadi problematik bagi dirinya. Tak ada pula masa di mana di tengah kemajuan yang pesat mengenai manusia, manusialah paling kurang tahu tentang dirinya dan tentang identitasnya
Kata A. Heschel tentang filsafat manusia dalam “Who is man?” Stanford University Press, 1965
“filsafat mempunyai perhatian terhadap manusia dalam totalitasnya, bukan dalam aspek ini atau itu. setiap ilmu terspesialisasi (antropologi, linguistik, fisiologi, kedokteran, psikologi, sosiologi, ekonomi, ilmu politik), betapapun kerasnya usaha mereka, mereka tetap membatasi totalitas dari individu dengan memandangnya dari segi salah satu fungsi, atau dari dorongan tertentu. Pengetahuan kita tentang manusia terpecah-pecah: kerapkali kita menggantikan keseluruhan dengan salah satu bagian. Kita berusaha untuk menghindari kesalahan-kesalahan”.
Sumber diambil dari slide bahan kuliah tanggal 23 September 2014 tentang Filsafat Manusia.
Minggu, 05 Oktober 2014
(Pertemuan Kelima) ETIKA DAN MORAL
Istilah Etika dan Moral sering diperlakukan sebagai dua istilah yang sinonim.
Etika berasal dari bahasa Yunani “Ethos” yang berarti kebiasaan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan adanya suatu nuansa dalam konsep dan pengertian moral dan etika.
Moral/Moralitas biasanya dikaitkan dengan system nilai tentang bagaimana kita harus hidup secara baik sebagai manusia.
Sistem nilai ini terkandung dalam ajaran berbentuk petuah-petuah, nasihat, wejangan, peraturan, perintah dan semacamnya yang diwariskan secara turun-temurun melalui agama atau kebudayaan tertentu tentang bagaimana manusia harus hidup secara baik agar ia benar-benar menjadi manusia yang baik.
Nilai adalah sesuatu yang berguna bagi seseorang atau kelompok orang dan karena itu orang atau kelompok itu selalu berusaha untuk mencapainya karena pencapaiannya sangat memberi makna kepada diri serta seluruh hidupnya. Norma adalah aturan atau kaidah dan perilaku dan tindakan manusia.
Etika
Sebagai cabang filsafat, etika sangat menekankan pendekatan yang kritis dalam melihat dan menggumuli nilai dan norma moral tersebut serta permasalahan-permasalahan yang timbul dalam kaitan dengan nilai dan norma-norma itu.
Etika adalah sebuah refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujudnya dalam sikap dan pola perilaku hidup manusia, baik secara pribadi maupun sebagai kelompok.
Sedangkan etika justru mempersoalkan:
“Apakah saya harus melangkah dengan cara itu?"
Etika memang pada akhirnya menghimbau orang untuk bertindak sesuai dengan moralitas, tetapi bukan karena tindakan itu diperintahkan oleh moralitas (nenek moyang, orang tua, guru) melainkan karena ia sendiri tahu bahwa hal itu memang baik baginya. Sadar secara kritis dan rasional bahwa ia memang sudah sepantasnya bertindak seperti itu. Etika berusaha menggugah kesadaran manusia untuk bertindak secara otonom dan bukanheteronom. Etika bermaksud membantu manusia untuk bertindak secara bebas dan dapat dipertanggungjawabkan karena setiap tindakannya selalu lahir dari keputusan pribadi yang bebas dengan selalu bersedia untuk mempertanggungjawabkan tindakannya itu karena memang ada alasan-alasan dan pertimbangan-pertimbangan yang kuat mengapa ia bertindak begitu atau begini.
Etika Deskriptif:
Berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan pola prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika Deskriptif berbicara mengenai fakta apa adanya, yaitu mengenai nilai dan pola perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas konkrit yang membudaya. Ia berbicara mengenai kenyataan penghayatan nilai, tanpa menilai, dalam suatu masyarakat, tentang sikap orang dalam menghadapi hidup ini, dan tentang kondisi-kondisi yang memungkinkan manusia bertindak secara etis.
Moral Secara Umum
Moral adalah Norma (biasanya dirumuskan dalam bentuk perintah dan larangan) untuk menata sikap bathin dan perilaku lahiriah.
Moral dibagi menjadi dua:
-Moral filosofis
Moral filosofis didasarkan pada penalaran akal budi dan pengamatan. Misalnya moral pancasila.
-Moral teologis
Moral teologis didasarkan pada wahyu atau kitab suci yang ditafsirkan oleh otoritas intansi agama yang bersangkutan.
a. Etika Normatif: mempelajari secara kritis dan metodis norma-norma yang ada, untuk dapat norma dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.
b. Etika Fenomenologis: mempelajari secara kritis dan metodis gejala-gejala moral seperti suara hati kesadaran moral, kebebasan, tanggung jawab, norma-norma, dsb.
c. Etika Deskriptif: Berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan pola prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai.
Etika Deskriptif berbicara mengenai fakta apa adanya, yaitu mengenai nilai dan pola perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas konkrit yang membudaya. Ia berbicara mengenai kenyataan penghayatan nilai, tanpa menilai, dalam suatu masyarakat, tentang sikap orang dalam menghadapi hidup ini, dan tentang kondisi-kondisi yang memungkinkan manusia bertindak secara etis.
Ciri-ciri Etika Profesi:
-Adanya pengetahuan khusus
Biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun.
-Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi
Hal ini biasanya setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.
-Mengabdi pada kepentingan masyarakat
Artinya setiap pelaksana profesi harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.
-Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi
Setiap profesi akan selalu berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, maka untukmenjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus.
-Menjadi anggota dari suatu profesi.
Tujuan Kode Etik:
1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
4. Untuk meningkatkan mutu profesi.
5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
6. Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
8. Menentukan baku standarnya sendiri.
Kode etik yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja.
Sumber diambil dari slide bahan kuliah tanggal 22 September 2014 tentang Etika Dan Moral.
Etika berasal dari bahasa Yunani “Ethos” yang berarti kebiasaan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan adanya suatu nuansa dalam konsep dan pengertian moral dan etika.
Moral/Moralitas biasanya dikaitkan dengan system nilai tentang bagaimana kita harus hidup secara baik sebagai manusia.
Sistem nilai ini terkandung dalam ajaran berbentuk petuah-petuah, nasihat, wejangan, peraturan, perintah dan semacamnya yang diwariskan secara turun-temurun melalui agama atau kebudayaan tertentu tentang bagaimana manusia harus hidup secara baik agar ia benar-benar menjadi manusia yang baik.
Nilai adalah sesuatu yang berguna bagi seseorang atau kelompok orang dan karena itu orang atau kelompok itu selalu berusaha untuk mencapainya karena pencapaiannya sangat memberi makna kepada diri serta seluruh hidupnya. Norma adalah aturan atau kaidah dan perilaku dan tindakan manusia.
Etika
Sebagai cabang filsafat, etika sangat menekankan pendekatan yang kritis dalam melihat dan menggumuli nilai dan norma moral tersebut serta permasalahan-permasalahan yang timbul dalam kaitan dengan nilai dan norma-norma itu.
Etika adalah sebuah refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujudnya dalam sikap dan pola perilaku hidup manusia, baik secara pribadi maupun sebagai kelompok.
Sedangkan etika justru mempersoalkan:
“Apakah saya harus melangkah dengan cara itu?"
Etika memang pada akhirnya menghimbau orang untuk bertindak sesuai dengan moralitas, tetapi bukan karena tindakan itu diperintahkan oleh moralitas (nenek moyang, orang tua, guru) melainkan karena ia sendiri tahu bahwa hal itu memang baik baginya. Sadar secara kritis dan rasional bahwa ia memang sudah sepantasnya bertindak seperti itu. Etika berusaha menggugah kesadaran manusia untuk bertindak secara otonom dan bukanheteronom. Etika bermaksud membantu manusia untuk bertindak secara bebas dan dapat dipertanggungjawabkan karena setiap tindakannya selalu lahir dari keputusan pribadi yang bebas dengan selalu bersedia untuk mempertanggungjawabkan tindakannya itu karena memang ada alasan-alasan dan pertimbangan-pertimbangan yang kuat mengapa ia bertindak begitu atau begini.
Etika Deskriptif:
Berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan pola prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika Deskriptif berbicara mengenai fakta apa adanya, yaitu mengenai nilai dan pola perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas konkrit yang membudaya. Ia berbicara mengenai kenyataan penghayatan nilai, tanpa menilai, dalam suatu masyarakat, tentang sikap orang dalam menghadapi hidup ini, dan tentang kondisi-kondisi yang memungkinkan manusia bertindak secara etis.
Moral Secara Umum
Moral adalah Norma (biasanya dirumuskan dalam bentuk perintah dan larangan) untuk menata sikap bathin dan perilaku lahiriah.
Moral dibagi menjadi dua:
-Moral filosofis
Moral filosofis didasarkan pada penalaran akal budi dan pengamatan. Misalnya moral pancasila.
-Moral teologis
Moral teologis didasarkan pada wahyu atau kitab suci yang ditafsirkan oleh otoritas intansi agama yang bersangkutan.
a. Etika Normatif: mempelajari secara kritis dan metodis norma-norma yang ada, untuk dapat norma dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.
b. Etika Fenomenologis: mempelajari secara kritis dan metodis gejala-gejala moral seperti suara hati kesadaran moral, kebebasan, tanggung jawab, norma-norma, dsb.
c. Etika Deskriptif: Berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan pola prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai.
Etika Deskriptif berbicara mengenai fakta apa adanya, yaitu mengenai nilai dan pola perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas konkrit yang membudaya. Ia berbicara mengenai kenyataan penghayatan nilai, tanpa menilai, dalam suatu masyarakat, tentang sikap orang dalam menghadapi hidup ini, dan tentang kondisi-kondisi yang memungkinkan manusia bertindak secara etis.
Ciri-ciri Etika Profesi:
-Adanya pengetahuan khusus
Biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun.
-Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi
Hal ini biasanya setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.
-Mengabdi pada kepentingan masyarakat
Artinya setiap pelaksana profesi harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.
-Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi
Setiap profesi akan selalu berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, maka untukmenjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus.
-Menjadi anggota dari suatu profesi.
Tujuan Kode Etik:
1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
4. Untuk meningkatkan mutu profesi.
5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
6. Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
8. Menentukan baku standarnya sendiri.
Kode etik yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja.
Sumber diambil dari slide bahan kuliah tanggal 22 September 2014 tentang Etika Dan Moral.
Sabtu, 04 Oktober 2014
(Pertemuan Keempat) SUBYEKTIVISME & OBYEKTIVISME DAN SUBSTANSI FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
SUBYEKTIVISME DAN OBYEKTIVISME
Subyektivisme
Pandangan subyektivisme menurut para tokoh dibawah ini, yaitu:
- Rene Descartes : Cogito ergo sum cogitans: saya berpikir maka saya adalah pengada yang berpikir.
Ketika Descartes berbicara mengenai berpikir, ia tak bermaksud secara eksklusif pada penalaran saja, tetapi melihat, mendengar, merasa, senang atau sakit, kehendak (seluruh kegiatan sadar) masuk dalam kegiatan berpikir.
- Kaum Realisme Epistemologis
Realisme Epistemologis: berpendapat bahwa kesadaran menghubungkan saya dengan “apa yg lain” dari diri saya.
- Kaum Idealisme Epistemologis
Idealisme Epistemologis: berpendapat bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir di dlm suatu ide, yg merupakan suatu peristiwa subyektif murni.
Selain mereka terdapat juga beberapa tokoh seperti Aristoteles, Plato, Kaum Solipsisme (solo ipse). Banyak filsuf sesudah Descartes mengandaikan bahwa satu-satunya hal yg dapat kita ketahui dengan pasti adalah diri kita sendiri dan kegiatan sadar kita.
Obyektivisme
Suatu pandangan yang menekankan bahwa butir-butir pengetahuan manusia dari soal yang sederhana sampai teori yang kompleks mempunyai sifat dan ciri yang melampaui (di luar) keyakinan dan kesadaran individu (pengamat). Pengetahuan diperlakukan sebagai sesuatu yang berada diluar ketimbang di dalam pikiran manusia.
Ciri-ciri pendekatan Subyektivisme:
Menggagas pengetahuan sebagai suatu keadaan mental yang khusus (semacam kepercayaan yang istimewa),misalnya sejarah, kepercayaan yang lain.
Pengalaman subyektif (kokoh terjamin) sebagai titik tolak pengetahuan dari data inderawi (intuisi) diri sendiri.
Prinsip subyektif tentang alasan cukup, karena pengalamanan bersifat personal, benar secara pasti dan meyakinkan karena berlaku sebagai pengetahuan langsung dari diri subyek.
Ada 3 pandangan dasar Objektivisme:
Kebenaran itu independen terlepas dari pandang subjektif.Kebenaran itu datang dari bukti factual.Kebenaran hanya bisa didasari dari pengalaman inderawi.
Pengetahuan dalam pengertian obyektivis menurut Karl R. Popper adalah pengetahuan tanpa orang: ia adalah pengetahuan tanpa diketahui subjek. Obyek itu bersifat “umum” dalam arti bahwa obyek yang sama dapat dipersepsikan oleh pengamat yang jumlahnya tidak terbatas. Obyek-obyek itu bersifat permanen, baik untukdipersepsikan atau pun tidak.
Untuk mempercayai kebenaran kesaksian inderawi,beberapa syarat harus dipenuhi:
- Obyek harus sesuai dengan jenis indera kita. Warna-warna infra merah tidak cocok bagi indera kita.
- Organ indera harus normal dan sehat. Misalnya buta, tuli, atau buta warna. Tidak dapat melakukan penginderaan secara obyektif.
- Karena obyek ditangkap melalui medium, maka medium itu harus ada.
Perlu mengingat pembedaan antara obyek khusus dan Obyek umum.
obyek khusus merupakan data yang ditangkap hanya oleh satu indera. Misalnya, warna, suara, bau.Obyek umum merupakan data yang dapat ditangkap oleh lebih dari satu indera. Misalnya keluasan dan gerakan yang dapat dilihat dan diraba atau oleh indera lainnya.
KONFIRMASI, INFERENSI, DAN KONSTRUKSI TEORI
Konfirmasi
Etimologi: Confirmation (Inggris)= penegasan, memperkuat.
Berhubungan dengan filsafat ilmu, maka fungsi ilmu pengetahuan adalah menjelaskan, menegaskan, memperkuat apa yang didapat dari kenyataan/fakta. Sifatnya lebih interpretatif dan memberi makna tentang sesuatu.
Ada 2 aspek konfirmasi:
1. Konfirmasi Kuantitatif
Untuk memastikan kebenaran, ilmu pengetahuan mengemukakan konfirmasi aspek kuantitatif
2. Konfirmasi Kualitatif
Ada kalanya ilmu pengetahuan membutuhkan konfirmasi kualitatif untuk menunjukkan kebenaran. Mungkin karena konfirmasi kuantitatif tidak bisa dilaksanakan, maka harus menjalankan konfirmasi kualitatif.
Ada 3 jenis konfirmasi: Decision theory, estimation theory, dan reliability theory.
Inferensi
Inferensi dapat didefinisikan sebagai suatu proses penarikan konklusi dari satu atau lebih proposisi (keputusan). Penyimpulan bisa berupa "mengakui" atau "memungkiri" suatu kesatuan antara dua pernyataan.
- Di dalam logika, proses penarikan konklusi dapat dilakukan melalui dua cara, yakni cara deduktif dan induktif.
- Inferensi deduktif terbagi ke dalam dua jenis, yaitu inferensi langsung dan tidak langsung, Inferensi langsung ialah penarikan kesimpulan hanya dari sebuah premis. Sementara inferensi tidak langsung adalah penarikan kesimpulan dengan menggunakan dua premis.
- Predikat konklusi disebut term mayor sedangkan subyek konklusi disebut term minor.
Hukum inferensi :
1. Kalau premis-premis benar, maka kesimpulan benar.
2. Kalau premis-premis salah, maka kesimpulan dapat salah,dapat kebetulan benar
3. Bila kesimpulan salah, maka premis-premis juga salah.
4. Bila kesimpulan benar, maka premis-premisnya dapat benar, tetapi dapat juga salah
Konstruksi Teori
Teori dirumuskan, dikembangkan, dievaluasi menurut metode ilmiah. Arti teori memiliki 2 kutub, yaitu:
1. Teori sebagai hukum eksperimental,
2. Teori sebagai hukum yang berkualitas normal, seperti relativitasnya Einstein.
sebagai hukum yang berkualitas normal, seperti teori relativitas Einstein.
Pengelompokkan perkembangan ilmu pengetahuan terbagi dalam tiga periode;
1. Animisme
2. Ilmu Empiris
3. Ilmu Teoretis
Tiga model konstruksi teori;
1. Model korespondensi
2. Model koherensi
3. Model paradigmatis
Aliran dalam konstruksi teori
1.Reduksionalisme
2. Instrumentalisme
3. Realisme
Sumber diambil dari slide bahan kuliah tanggal 19 September 2014 tentang Subyektivisme & Obyektivisme dan Substansi Filsafat Ilmu Pengetahuan.
(Pertemuan Ketiga) EPISTEMOLOGI & FILSAFAT ILMU DAN KEBENARAN
EPISTEMOLOGI
Epistemologi berasal dari bahasa Yunani yaitu episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan.
Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan
Empirisme: suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa), dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut.
Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran
Fenomenalisme: Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Kant membuat uraian tentang pengalaman. Barang sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran.
Epistemologi adalah:
Teori tentang pengetahuan
Ilmu pengetahuan yang mempelajari secara kritis tentang sumber,struktur dan kebenaran pengetahuan
Ilmu pengetahuan yang mempelajari secara kritis, normatif dan evaluatif mengenai proses bagaimana pengetahuan itu diperoleh oleh manusia
Sifat Epistemologi:
Secara kritis: Mempertanyakan/menguji cara kerja, pendekatan, kesimpulan yang ditarik dalam kegiatan kognitif manusia
Secara normatif: Menentukan tolok ukur/norma penalaran tentang kebenaran pengetahuan
Secara evaluatif: Menilai apakah suatu keyakinan,pendapat suatu teori pengetahuan dapat dipertanggungjawabkan dan dijamin kebenarannya secara logis dan akurat
Dasar dan Sumber Pengetahuan
1. Pengalaman manusia
2. Ingatan (memory)
3. Penegasan tentang apa yang diobservasi (kesaksian)
4. Minat dan rasa ingin tahu
5. Pikiran dan penalaran
6. Logika (berpikir tepat dan logis)
7. Bahasa (ekspresi pemikiran manusia melalui ujaran / tulisan)
8. Kebutuhan hidup manusia (mendorong terciptanya iptek)
Teori Kebenaran Dalam Ilmu Pengetahuan
-Teori kebenaran korespondensi
-Teori kebenaran koherensi
-Teori kebenaran pragmatik
-Teori kebenaran konsensus
-Teori kebenaran semantik
FILSAFAT ILMU DAN KEBENARAN
Kebenaran
Secara umum kebenaran biasanya dimengerti sebagai kesesuaian antara apa yang dipikirkan dan atau dinyatakan dengan kenyataan yang sesungguhnya.
Menurut kaum Positivisme Logis, kebenaran dibedakan menjadi dua, yaitu kebenaran faktual dan kebenaran nalar.
1. Kebenaran faktual adalah kebenaran tentang ada tidaknya secara faktual di dunia nyata sebagaimana dialami manusia (yang biasanya diukur dengan dapat atau tidaknya secara indrawi).
2. Kebenaran nalar adalah kebenaran yang bersifat tautologis (pengulangan gagasan) dan tidak menambah pengetahuan baru mengenai dunia, tetapi dapat menjadi sarana yang berdaya guna untuk memperoleh pengatahuan yang benar tentang dunia ini.
Menurut Thomas Aquinas, kebenaran dibedakan menjadi dua, yaitu kebenaran Ontologis (Veritas Ontologica) dan kebenaran Logis (Veritas Logica).
1. Kebenaran ontologis merupakan kebenaran yang terdapat dalam kenyataan, entah spritual atau material, yang meskipun ada kemungkinan untuk diketahui.
2. Kebenaran logis sebagai kebenaran yang terdapat dalam akal budi manusia si penahu, dalam bentuk adanya kesesuaian antara akal budi dengan kenyataan.
Kesahihan dan Kekeliruan
-Kekeliruan berarti menerima benar sebagai apa yang dinyatakan salah atau menyangkal apa yang senyatanya benar.
-Kekeliruan adalah segala sesuatu yang menyangkut tindakan kognitif subjek penahu, sedangkan kesalahan adalah hasil dari tindakan tersebut.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kekeliruan misalnya:
1. Sikap terburu-buru dan kurang perhatian dalam salah satu tahap atau keseluruhan proses kegiatan mengetahui.
2. Sikap takut salah yang keterlaluan atau sebaliknya sikap terlalu gegabah dalam melangkah.
3. Kerancuan atau kebingungan akibat emosi, frustasi, perasaan yang entah mengganggu konsentrasi atau membuat kurang terbuka terhadap bukti-bukti yang tersedia.
4. Prasangka dan bias-bias, baik individu maupun sosial.
5. Keliru dalam penalaran atau tidak mematuhi aturan-aturan logis.
Setelah materi ini selesai, sesi selanjutnya adalah debat. Tema debat yang disajikan yaitu mengenai "Pilkada Langsung dan Pilkada Tidak Langsung". Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan epistemologi, yaitu empirisme, rasionalisme, dan fenomenalisme. Ada pula sifat kebenaran yang dipakai adalah kritis, normatif, dan evaluatif. Secara pribadi, saya mendukung Pilkada Tidak Langsung. Karena selain bisa menghemat anggaran dana, waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil perolehan suara juga relatif lebih cepat. Tema debat yang kedua mengenai "Pergaulan Bebas". Kebetulan, pembagian kelompok pro dan kontra dibagi menurut gender, mahasiswi perempuan adalah kelompok kontra, sedangkan mahasiswa laki-laki kelompok pro. Pembahasan mengenai pergaulan bebas, aborsi, hingga kematian diperdebatkan baik kelompok pro maupun kontra.
Sumber diambil dari slide bahan kuliah tanggal 18 September 2014 tentang Epistemologi & Filsafat Ilmu & Kebenaran.
Epistemologi berasal dari bahasa Yunani yaitu episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan.
Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan
Empirisme: suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa), dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut.
Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran
Fenomenalisme: Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Kant membuat uraian tentang pengalaman. Barang sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran.
Epistemologi adalah:
Teori tentang pengetahuan
Ilmu pengetahuan yang mempelajari secara kritis tentang sumber,struktur dan kebenaran pengetahuan
Ilmu pengetahuan yang mempelajari secara kritis, normatif dan evaluatif mengenai proses bagaimana pengetahuan itu diperoleh oleh manusia
Sifat Epistemologi:
Secara kritis: Mempertanyakan/menguji cara kerja, pendekatan, kesimpulan yang ditarik dalam kegiatan kognitif manusia
Secara normatif: Menentukan tolok ukur/norma penalaran tentang kebenaran pengetahuan
Secara evaluatif: Menilai apakah suatu keyakinan,pendapat suatu teori pengetahuan dapat dipertanggungjawabkan dan dijamin kebenarannya secara logis dan akurat
Dasar dan Sumber Pengetahuan
1. Pengalaman manusia
2. Ingatan (memory)
3. Penegasan tentang apa yang diobservasi (kesaksian)
4. Minat dan rasa ingin tahu
5. Pikiran dan penalaran
6. Logika (berpikir tepat dan logis)
7. Bahasa (ekspresi pemikiran manusia melalui ujaran / tulisan)
8. Kebutuhan hidup manusia (mendorong terciptanya iptek)
Teori Kebenaran Dalam Ilmu Pengetahuan
-Teori kebenaran korespondensi
-Teori kebenaran koherensi
-Teori kebenaran pragmatik
-Teori kebenaran konsensus
-Teori kebenaran semantik
FILSAFAT ILMU DAN KEBENARAN
Kebenaran
Secara umum kebenaran biasanya dimengerti sebagai kesesuaian antara apa yang dipikirkan dan atau dinyatakan dengan kenyataan yang sesungguhnya.
Menurut kaum Positivisme Logis, kebenaran dibedakan menjadi dua, yaitu kebenaran faktual dan kebenaran nalar.
1. Kebenaran faktual adalah kebenaran tentang ada tidaknya secara faktual di dunia nyata sebagaimana dialami manusia (yang biasanya diukur dengan dapat atau tidaknya secara indrawi).
2. Kebenaran nalar adalah kebenaran yang bersifat tautologis (pengulangan gagasan) dan tidak menambah pengetahuan baru mengenai dunia, tetapi dapat menjadi sarana yang berdaya guna untuk memperoleh pengatahuan yang benar tentang dunia ini.
Menurut Thomas Aquinas, kebenaran dibedakan menjadi dua, yaitu kebenaran Ontologis (Veritas Ontologica) dan kebenaran Logis (Veritas Logica).
1. Kebenaran ontologis merupakan kebenaran yang terdapat dalam kenyataan, entah spritual atau material, yang meskipun ada kemungkinan untuk diketahui.
2. Kebenaran logis sebagai kebenaran yang terdapat dalam akal budi manusia si penahu, dalam bentuk adanya kesesuaian antara akal budi dengan kenyataan.
Kesahihan dan Kekeliruan
-Kekeliruan berarti menerima benar sebagai apa yang dinyatakan salah atau menyangkal apa yang senyatanya benar.
-Kekeliruan adalah segala sesuatu yang menyangkut tindakan kognitif subjek penahu, sedangkan kesalahan adalah hasil dari tindakan tersebut.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kekeliruan misalnya:
1. Sikap terburu-buru dan kurang perhatian dalam salah satu tahap atau keseluruhan proses kegiatan mengetahui.
2. Sikap takut salah yang keterlaluan atau sebaliknya sikap terlalu gegabah dalam melangkah.
3. Kerancuan atau kebingungan akibat emosi, frustasi, perasaan yang entah mengganggu konsentrasi atau membuat kurang terbuka terhadap bukti-bukti yang tersedia.
4. Prasangka dan bias-bias, baik individu maupun sosial.
5. Keliru dalam penalaran atau tidak mematuhi aturan-aturan logis.
Setelah materi ini selesai, sesi selanjutnya adalah debat. Tema debat yang disajikan yaitu mengenai "Pilkada Langsung dan Pilkada Tidak Langsung". Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan epistemologi, yaitu empirisme, rasionalisme, dan fenomenalisme. Ada pula sifat kebenaran yang dipakai adalah kritis, normatif, dan evaluatif. Secara pribadi, saya mendukung Pilkada Tidak Langsung. Karena selain bisa menghemat anggaran dana, waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil perolehan suara juga relatif lebih cepat. Tema debat yang kedua mengenai "Pergaulan Bebas". Kebetulan, pembagian kelompok pro dan kontra dibagi menurut gender, mahasiswi perempuan adalah kelompok kontra, sedangkan mahasiswa laki-laki kelompok pro. Pembahasan mengenai pergaulan bebas, aborsi, hingga kematian diperdebatkan baik kelompok pro maupun kontra.
Sumber diambil dari slide bahan kuliah tanggal 18 September 2014 tentang Epistemologi & Filsafat Ilmu & Kebenaran.
Langganan:
Postingan (Atom)