Sabtu, 04 Oktober 2014

(Pertemuan Ketiga) EPISTEMOLOGI & FILSAFAT ILMU DAN KEBENARAN

EPISTEMOLOGI

Epistemologi berasal dari bahasa Yunani yaitu episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan.

Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan

Empirisme: suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa), dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut.

Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran

Fenomenalisme: Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Kant membuat uraian tentang pengalaman. Barang sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. 

Epistemologi adalah:

Teori tentang pengetahuan

Ilmu pengetahuan yang mempelajari secara kritis tentang sumber,struktur dan kebenaran pengetahuan

Ilmu pengetahuan yang mempelajari secara kritis, normatif dan evaluatif mengenai proses bagaimana pengetahuan itu diperoleh oleh manusia

Sifat Epistemologi:

Secara kritis: Mempertanyakan/menguji cara kerja, pendekatan, kesimpulan yang ditarik dalam kegiatan kognitif manusia

Secara normatif: Menentukan tolok ukur/norma penalaran tentang kebenaran pengetahuan

Secara evaluatif: Menilai apakah suatu keyakinan,pendapat suatu teori pengetahuan dapat dipertanggungjawabkan dan dijamin kebenarannya secara logis dan akurat

Dasar dan Sumber Pengetahuan

1. Pengalaman manusia
2. Ingatan (memory)
3. Penegasan tentang apa yang diobservasi (kesaksian)
4. Minat dan rasa ingin tahu
5. Pikiran dan penalaran
6. Logika (berpikir tepat dan logis)
7. Bahasa (ekspresi pemikiran manusia melalui ujaran / tulisan)
8. Kebutuhan hidup manusia (mendorong terciptanya iptek)

Teori Kebenaran Dalam Ilmu Pengetahuan

-Teori kebenaran korespondensi
-Teori kebenaran koherensi
-Teori kebenaran pragmatik
-Teori kebenaran konsensus
-Teori kebenaran semantik


FILSAFAT ILMU DAN KEBENARAN

Kebenaran

Secara umum kebenaran biasanya dimengerti sebagai kesesuaian antara apa yang dipikirkan dan atau dinyatakan dengan kenyataan yang sesungguhnya.

Menurut kaum Positivisme Logis, kebenaran dibedakan menjadi dua, yaitu kebenaran faktual dan kebenaran nalar.

1. Kebenaran faktual adalah kebenaran tentang ada tidaknya secara faktual di dunia nyata sebagaimana dialami manusia (yang biasanya diukur dengan dapat atau tidaknya secara indrawi).

2. Kebenaran nalar adalah kebenaran yang bersifat tautologis (pengulangan gagasan) dan tidak menambah pengetahuan baru mengenai dunia, tetapi dapat menjadi sarana yang berdaya guna untuk memperoleh pengatahuan yang benar tentang dunia ini.

Menurut Thomas Aquinas, kebenaran dibedakan menjadi dua, yaitu kebenaran Ontologis (Veritas Ontologica) dan kebenaran Logis (Veritas Logica).

1. Kebenaran ontologis merupakan kebenaran yang terdapat dalam kenyataan, entah spritual atau material, yang meskipun ada kemungkinan untuk diketahui.  

2. Kebenaran logis sebagai kebenaran yang terdapat dalam akal budi manusia si penahu, dalam bentuk adanya kesesuaian antara akal budi dengan kenyataan.

Kesahihan dan Kekeliruan

-Kekeliruan berarti menerima benar sebagai apa yang dinyatakan salah atau menyangkal apa yang senyatanya benar.

-Kekeliruan adalah segala sesuatu yang menyangkut tindakan kognitif subjek penahu, sedangkan kesalahan adalah hasil dari tindakan tersebut.

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kekeliruan misalnya:

1. Sikap terburu-buru dan kurang perhatian dalam salah satu tahap atau keseluruhan proses  kegiatan mengetahui.

2. Sikap takut salah yang keterlaluan atau sebaliknya sikap terlalu gegabah dalam melangkah.

3. Kerancuan atau kebingungan akibat emosi, frustasi, perasaan yang entah mengganggu konsentrasi  atau membuat kurang terbuka terhadap bukti-bukti yang tersedia.

4. Prasangka dan bias-bias, baik individu maupun sosial.

5. Keliru dalam penalaran atau tidak mematuhi aturan-aturan logis.


Setelah materi ini selesai, sesi selanjutnya adalah debat. Tema debat yang disajikan yaitu mengenai "Pilkada Langsung dan Pilkada Tidak Langsung". Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan epistemologi, yaitu empirisme, rasionalisme, dan fenomenalisme. Ada pula sifat kebenaran yang dipakai adalah kritis, normatif, dan evaluatif. Secara pribadi, saya mendukung Pilkada Tidak Langsung. Karena selain bisa menghemat anggaran dana, waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil perolehan suara juga relatif lebih cepat. Tema debat yang kedua mengenai "Pergaulan Bebas". Kebetulan, pembagian kelompok pro dan kontra dibagi menurut gender, mahasiswi perempuan adalah kelompok kontra, sedangkan mahasiswa laki-laki kelompok pro. Pembahasan mengenai pergaulan bebas, aborsi, hingga kematian diperdebatkan baik kelompok pro maupun kontra.


Sumber diambil dari slide bahan kuliah tanggal 18 September 2014 tentang Epistemologi & Filsafat Ilmu & Kebenaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar