Sabtu, 04 Oktober 2014

(Pertemuan Keempat) SUBYEKTIVISME & OBYEKTIVISME DAN SUBSTANSI FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN

SUBYEKTIVISME DAN OBYEKTIVISME

Subyektivisme

Pandangan subyektivisme menurut para tokoh dibawah ini, yaitu:

- Rene Descartes : Cogito ergo sum cogitans: saya berpikir maka saya adalah pengada yang berpikir.

Ketika Descartes berbicara mengenai berpikir, ia tak bermaksud secara eksklusif pada penalaran saja, tetapi melihat, mendengar, merasa, senang atau sakit, kehendak (seluruh kegiatan sadar) masuk dalam kegiatan berpikir.

- Kaum Realisme Epistemologis

Realisme Epistemologis: berpendapat bahwa kesadaran menghubungkan saya dengan “apa yg lain” dari diri saya.

- Kaum Idealisme Epistemologis

Idealisme Epistemologis: berpendapat bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir di dlm suatu ide, yg merupakan suatu peristiwa subyektif murni.

Selain mereka terdapat juga beberapa tokoh seperti Aristoteles, Plato, Kaum Solipsisme (solo ipse). Banyak filsuf sesudah Descartes mengandaikan bahwa satu-satunya hal yg dapat kita ketahui dengan pasti adalah diri kita sendiri dan kegiatan sadar kita.


Obyektivisme

Suatu pandangan yang menekankan bahwa butir-butir pengetahuan manusia dari soal yang sederhana sampai teori yang kompleks mempunyai sifat dan ciri yang melampaui (di luar) keyakinan dan kesadaran individu (pengamat). Pengetahuan diperlakukan sebagai sesuatu yang berada diluar ketimbang di dalam pikiran manusia.

Ciri-ciri pendekatan Subyektivisme:

Menggagas pengetahuan sebagai suatu keadaan mental yang khusus (semacam kepercayaan yang istimewa),misalnya sejarah, kepercayaan yang lain.

Pengalaman subyektif (kokoh terjamin) sebagai titik tolak pengetahuan dari data inderawi (intuisi) diri sendiri.

Prinsip subyektif tentang alasan cukup, karena pengalamanan bersifat personal, benar secara pasti dan meyakinkan karena berlaku sebagai pengetahuan langsung dari diri subyek.

Ada 3 pandangan dasar Objektivisme:

Kebenaran itu independen terlepas dari pandang subjektif.Kebenaran itu datang dari bukti factual.Kebenaran hanya bisa didasari dari pengalaman inderawi.

Pengetahuan dalam pengertian obyektivis menurut Karl R. Popper adalah pengetahuan tanpa orang: ia adalah pengetahuan tanpa diketahui subjek. Obyek itu bersifat “umum” dalam arti bahwa obyek yang sama dapat dipersepsikan oleh pengamat yang jumlahnya tidak terbatas. Obyek-obyek itu bersifat permanen, baik untukdipersepsikan atau pun tidak.

Untuk mempercayai kebenaran kesaksian inderawi,beberapa syarat harus dipenuhi:

- Obyek harus sesuai dengan jenis indera kita. Warna-warna infra merah tidak cocok bagi indera kita.

- Organ indera harus normal dan sehat. Misalnya buta, tuli, atau buta warna. Tidak dapat melakukan penginderaan secara obyektif.

- Karena obyek ditangkap melalui medium, maka medium itu harus ada.

Perlu mengingat pembedaan antara obyek khusus dan Obyek umum.
obyek khusus merupakan data yang ditangkap hanya oleh satu indera. Misalnya, warna, suara, bau.Obyek umum merupakan data yang dapat ditangkap oleh lebih dari satu indera. Misalnya keluasan dan gerakan yang dapat dilihat dan diraba atau oleh indera lainnya.


KONFIRMASI, INFERENSI, DAN KONSTRUKSI TEORI

Konfirmasi

Etimologi: Confirmation (Inggris)= penegasan, memperkuat.

Berhubungan dengan filsafat ilmu, maka fungsi ilmu pengetahuan adalah menjelaskan, menegaskan, memperkuat apa yang didapat dari kenyataan/fakta. Sifatnya lebih interpretatif dan memberi makna tentang sesuatu.

Ada 2 aspek konfirmasi:

1. Konfirmasi Kuantitatif

Untuk memastikan kebenaran, ilmu pengetahuan mengemukakan konfirmasi aspek kuantitatif

2. Konfirmasi Kualitatif

Ada kalanya  ilmu pengetahuan membutuhkan konfirmasi kualitatif untuk menunjukkan kebenaran. Mungkin karena konfirmasi kuantitatif tidak bisa dilaksanakan, maka harus menjalankan konfirmasi kualitatif.

Ada 3 jenis konfirmasi: Decision theory, estimation theory, dan reliability theory.


Inferensi

Inferensi dapat didefinisikan sebagai suatu proses penarikan konklusi dari satu atau lebih proposisi (keputusan). Penyimpulan bisa berupa "mengakui" atau "memungkiri" suatu kesatuan antara dua pernyataan.

- Di dalam logika, proses penarikan konklusi dapat dilakukan melalui dua cara, yakni cara deduktif dan induktif.

- Inferensi deduktif terbagi ke dalam dua jenis, yaitu inferensi langsung dan tidak langsung, Inferensi langsung ialah penarikan kesimpulan hanya dari sebuah premis. Sementara inferensi tidak langsung adalah penarikan kesimpulan dengan menggunakan dua premis.

- Predikat konklusi disebut term mayor sedangkan subyek konklusi disebut term minor.

Hukum inferensi :

1. Kalau premis-premis benar, maka kesimpulan benar.

2. Kalau premis-premis salah, maka kesimpulan dapat salah,dapat kebetulan benar

3. Bila kesimpulan salah, maka premis-premis juga salah.

4. Bila kesimpulan benar, maka premis-premisnya dapat benar, tetapi dapat juga salah


Konstruksi Teori

Teori dirumuskan, dikembangkan, dievaluasi menurut metode ilmiah. Arti teori memiliki 2 kutub, yaitu:

1. Teori sebagai hukum eksperimental,

2. Teori sebagai hukum yang berkualitas normal, seperti relativitasnya Einstein.

sebagai hukum yang berkualitas normal, seperti teori relativitas Einstein.

Pengelompokkan perkembangan ilmu pengetahuan terbagi dalam tiga periode;

1. Animisme
2. Ilmu Empiris
3. Ilmu Teoretis

Tiga model konstruksi teori;

1. Model korespondensi
2. Model koherensi
3. Model paradigmatis

Aliran dalam konstruksi teori

1.Reduksionalisme
2. Instrumentalisme
3. Realisme


Sumber diambil dari slide bahan kuliah tanggal 19 September 2014 tentang Subyektivisme & Obyektivisme dan Substansi Filsafat Ilmu Pengetahuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar